Senin, 27 Juni 2011

KEUTAMAAN MENYANTUNI ANAK YATIM

Sahabat RKF ! Islam telah mendorong pemeluknya agar memiliki akhlak mulia. Salah satu akhlak mulia itu adalah menyantuni anak yatim. Sesungguhnya, anak yatim adalah manusia yang paling membutuhkan pertolongan dan kasih sayang. Karena ia adalah anak yang kehilangan ayahnya pada saat ia sangat  membutuhkannya. Ia membutuhkan pertolongan dan kasih sayang kita, karena ia tidak mungkin mendapatkan kasih sayang ayahnya yang telah tiada. Jika anda melihat seseorang yang penyayang kepada anak-anak yatim dan menyantuni mereka, maka ketahuilah bahwa ia adalah seorang yang berbudi dan berakhlak mulia.
Suatu ketika Saib bin Abdulloh rodhiyallohu ‘anhu datang kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, maka Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya :
  “Wahai Saib, perhatikanlah akhlak yang biasa kamu lakukan ketika kamu masih dalam kejahiliyahan, laksanakan pula ia dalam masa keislaman. Jamulah tamu, muliakanlah anak yatim, dan berbuat baiklah kepada tetangga.” [HR.Ahmad dan Abu Dawud, Shohih Abu Dawud, Al-Albani : 4836]
Dalam sebuah atsar disebutkan riwayat dari Daud ‘alaihissalam, yang berkata :
 “Bersikaplah kepada anak yatim, seperti seorang bapak yang penyayang.” [HR. Bukhori]
Ketua Rumah Kreatif Elfatih Asep Saefullah sedang menyalurkan beasiswa yatim
Sahabat ! Kasih sayang dan berbuat baik kepada anak yatim, sebagaimana yang telah saya katakan kepada anda, adalah sebagian dari akhlak dan moralitas orang-orang yang mulia. Itu tidak bisa dilakukan kecuali oleh seorang lelaki yang mulia, yang menghimpun banyak budi pekerti mulia, yang mencintai kebajikan.
Abdullah bin Umar rodhiyallohu ‘anhu  tidak pernah memakan makanan kecuali dimeja makannya ada seorang anak yatim yang makan bersamanya. Jadilah orang seperti itu, saudaraku ! Seorang yang penyantun, lemah lembut, dan berupaya berbuat kebaikan kepada anak yatim, mengusap air mata mereka dengan tangan dan harta anda serta memasukkan perasaan gembira ke dalam hati mereka. Ketahuilah, bahwa jika anda mendapat taufiq untuk melaksanakan itu, maka anda benar-benar manusia yang beruntung. Yang berhak mendapat gelar “Seorang yang Berbudi”.
KEPADA ANDA YANG INGIN MENEMANI NABI DI SURGA
Sahabat ! Masuk surga adalah kesuksesan paling tinggi yang diraih oleh orang-orang yang beriman.
Bagaimana pula dengan menemani Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam didalamnya? Itu adalah derajat yang akan diraih oleh orang-orang yang menyantuni anak yatim.
Rosululloh Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :
“Aku dan orang-orang yang mengasuh/menyantuni anak yatim di Surga seperti ini”, Kemudian beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah seraya sedikit merenggangkannya. [HR. Bukhori].
Imam Ibnu Bathol rohimahulloh berkata : “Orang yang mendengar hadis ini wajib melaksanakannya, agar ia bisa menjadi sahabat NabiShallallaahu ‘alaihi wa Sallam di surga. Di akhirat, tidak ada kedudukan yang lebih utama dari itu.” Al-Hafizh Ibnu Hajar rohimahulloh berkata : “Isyarat ini cukup untuk menegaskan kedekatan kedudukan pemberi santunan kepada anak yatim dan kedudukan Nabi, karena tidak ada jari yang memisahkan jari telunjuk dengan jari tengah.”
Sahabat muslim ! Tahukah anda, apa hasil yang akan diperoleh dengan menyantuni dan mengasihi anak yatim, apa sikap  anda, saudaraku, terhadap kebaikan ini ? Jika anda termasuk orang-orang yang mampu, apakah anda pernah berpikir untuk menyantuni seorang anak yatim, sehingga anda bisa menjadi sahabat nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam di surga. Untuk menyantuni anak yatim anda tidak harus memiliki kekayaan yang melimpah. Melainkan, siapa yang memungut seorang anak yatim, memberinya makanan dengan makanan yang sehari-hari yang dimakannya, memberinya minum dengan minuman yang bisa diminumnya, maka ia akan memperoleh kedudukan tersebut.
Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :
“Barang siapa yang mengikutsertakan seorang anak yatim diantara dua orang tua yang muslim, dalam makan dan minumnya, sehingga mencukupinya maka ia pasti masuk surga.” [HR. Abu Ya'la dan Thobroni, Shohih At Targhib, Al-Albaniy : 2543].
Siswa siswi yatim penerima beasiswa program Bina Yatim Mandiri Rumah Kreatif Elfatih
Wahai anda  yang ingin memperoleh apa yang bermanfaat bagi dirinya, jika anda mendapat kesempatan untuk menyantuni anak yatim, jangan sekali-kali anda sia–siakan. Jika anda tidak menyukai hal itu dan menyia-nyiakannya, maka pikirkanlah pahala bagi orang yang menyantuni anak yatim. Tidakkah anda ingin menjadi sahabat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam di sorga ?!.
MULIAKANLAH ANAK YATIM, NISCAYA HATIMU MENJADI LUNAK DAN KEBUTUHANMU TERPENUHI
Saudaraku muslim ! Jika anda mengeluhkan hati anda yang keras, maka menyantuni anak yatim merupakan sarana yang bisa menjadikan hati lunak. Ia adalah obat yang diwasiatkan oleh Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam yang telah diutus dengan membawa petunjuk dengan kebenaran Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam.
Diriwayatkan oleh Abu Darda’ rodhiyallohu ‘anhu   yang berkata : 
Ada seorang laki-laki yang datang kepada nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengeluhkan kekerasan hatinya. Nabipun bertanya : sukakah kamu, jika hatimu menjadi lunak dan kebutuhanmu terpenuhi ? Kasihilah anak yatim, usaplah mukanya, dan berilah makan dari makananmu, niscaya hatimu menjadi lunak dan kebutuhanmu akan terpenuhi.” [HR Thobroni, Targhib, Al Albaniy : 254]
Saudaraku Muslim ! Sesungguhnya, mengasihi anak yatim merupakan sarana untuk melunakkan hati dan mengupayakan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan.
Sebab, orang yang mengasihi anak yatim telah memposisikan diri seperti ayahnya. Seorang ayah, secara naluriyah memiliki karakter sayang dan mengasihi anak-anaknya. Adapun orang yang mengasihi anak yatim memiki satu sifat lain, yaitu mengasihi anak yang bukan anak kandungnya.
Barang siapa keadaannya seperti itu maka dihatinya terhimpun sarana-sarana yang bisa melembutkan hatinya, sekalipun sebelumya merupakan hati yang keras.
Tidak diragukan lagi ini merupakan obat yang mujarab. Anda tidak akan pernah mendapati orang yang menyantuni anak yatim, kecuali pasti memiliki hati yang pengasih.
Kebalikan dari ini, anda tidak akan menjumpai seorangpun yang tidak mengasihi anak yatim, kecuali ia memiliki hati yang keras dan berakhlak buruk.
Manfaat lain dari tindakan mengasihi anak yatim yang telah dikabarkan oleh nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam kepada seorang yang bertanya kepada beliau adalah : bahwa meyantuni anak yatim merupakan sarana terpenuhimya kebutuhan dan terwujudnya apa yang dicari
Sesungguhnya, orang yang berbuat kebaikan kepada anak orang lain adalah orang yang telah memasukkan rasa gembira dihati mereka. Tidak diragukan lagi, Alloh pasti tidak akan menyia-nyiakannya, karena Alloh Ta’ala Maha Pengasih dan Mencintai semua orang yang pengasih.
Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : 
“Orang-orang yang pengasih, akan dikasihi oleh Ar Rohman (Yang Maha Pengasih) Tabaaroka wa ta’ala. Kasihilah siapa yang ada dibumi niscaya engkau dikasihi oleh yang di langit.” [HR. Abu dawud, Tirmidzi dan lain-lain. As silsilatu shohihah : 925].
Saudaraku muslim! Kasihilah anak yatim, niscaya Alloh akan memperbaiki urusan dunia dan akhiratmu. 
BAGAIMANA CARA BERBUAT BAIK KEPADA ANAK YATIM
Saudaraku muslim ! Berbuat baik kepada anak yatim, bisa dengan beberapa cara :
1.               Memberinya makan dan pakaian, serta menanggung kebutuhan-kebutuhan pokoknya. Di atas telah disampaikan kepada anda keutamaannya.
2.               Mengusap kepalanya serta menunjukkan kasih sayang kepadanya. Tindakan ini akan mempunyai pengaruh besar terhadap kejiwaan anak yatim. Ibnu Umar rodhiyallohu ‘anhu  jika melihat anak yatim, beliau mengusap kepalanya dan memberinya sesuatu.
3.               Membiayai sekolahnya, sebagaimana seseoang  ingin menyekolahkan anaknya.
4.               Mendidiknya dengan ikhlas, sebagaimana keikhlasanya dalam mendidik anak kandungnya sendiri.
5.               Jika ia melakukan perbuatan yang mengharuskan di beri hukuman maka bersikap lemah-lembut dalam mendidiknya.
6.               Bertakwa kepada Alloh dalam mengelola harta anak yatim, jika anak yatim itu mempunyai harta kekayaan. Jangan sampai hartanya di habiskan karena menginginkan agar anak yatim itu kelak tidak meminta hartanya kembali. Sebaliknya, hartanya harus di jaga, sehinga ketika ia telah dewasa, harta tersebut dikembalikan kepadanya.
7.               Mengembangkan harta anak yatim dan bersikap ikhlas di dalamnya, sehingga hartanya tidak habis oleh zakat.

Anak-anak yatim penerima beasiswa Bina Yatim Mandiri Rumah Kreatif Elfatih
Saudaraku Muslim ! Inilah beberapa gambaran tentang cara berbuat baik kepada anak yatim. Berbuat baik kepada anak yatim tidak hanya diperintahkan kepada orang-orang tertentu, akan tetapi setiap muslim diperintahkan untuk itu sebagaimana ia diperintahkan untuk melaksanakan semua amal yang baik dan sholih.
Jika Alloh ta’ala mengetahui ketulusan niat seorang hamba, niscaya Dia akan membantunya dalam melaksanakan perbuatan baik. Maka, hendaklah engkau berkeinginan kuat untuk melasanakan amal-amal shalih, walaupun baru sekedar berniat di hati sampai suatu saat Alloh memberikan kesempatan anda untuk melakukan amal solih.
Sungguh, tidak ada orang yang lebih lemah daripada orag yang tidak mampu menyelinapkan niat di hatinya untuk melasanakan amal-amal sholih.
KEPADA SETIAP MUSLIM
Saudaraku Muslim ! Berbuatlah baik kepada anak yatim, selain merupakan akhlak yang mulia yang diserukan oleh Islam, ia juga hanya dilaksanakan oleh orang-orang yang berhati penyayang dan berjiwa bersih.
Masyarakat muslim, adalah masyarakat yang diikat oleh ajaran-ajaran mulia yang diserukan oleh Islam.
Ia adalah masyarakat yang telah digambarkan oleh Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dalam penggambaran beliau yang indah, ketika beliau bersabda : 
“Engkau melihat orang-orang beriman itu dalam hal kasih sayang dan saling mencintai di antara mereka, adalah seperti satu tubuh, jika ada satu organ yang mengeluh (sakit), maka seluruh tubuh akan merasakan sakit dengan tidak tidur dan panas.” [HR. Bukhori dan Muslim, redaksi ini terdapat dalam riwayat Bukhori.]
Penggambaran ini memberitahukan kepada anda, bagaimana seyogyanya keadaan dalam masyarakat muslim ini.
Anak yatim adalah bagian dari masyarakat muslim itu. Ia berhak terhadap apa yang menjadikan hak anggota masyarakat muslim lainnya, dan berkewajiban sebagaimana kewajiban masyarakat anggota muslim lainnya. Seluruh kaum muslimin wajib berbuat baik kepada anak yatim, menyantuninya, dan menggantikan kasih sayang ayahnya, serta memberikan kepadanya apa yang biasa mereka berikan kepada anak-anak dan istri mereka.
Saudaraku Muslim ! Tidaklah sulit bagi anda untuk memungut seorang anak yatim, memberi makanan seperti yang biasa anda makan sehari-hari, memberi pakaian seperti pakaian yang biasa anda pakai, dan menjadikannya sebagai salah seorang anak  anda.
Hendaklah, perbuatan baik anda ini didasarkan niat tulus untuk mencari ridho Alloh Ta’ala. Dengan harapan, anda bisa menjadi salah seorang dari mereka yang digambarkan oleh Alloh Ta’ala dalam firmannya :
“Dan merka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhoan Allah,kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya kami takut akan (adzab) Tuhan kami pada suatu hari yang (dihari) orang-orang bermuka masam penuh kesakitan. Maka Alloh memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepda mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutra.” [Al-Insan : 8-12]

Semoga Alloh memberikan taufiq kepadaku, kepada anda, saudaraku muslim, untuk melakukan amal-amal sholih. Semoga Alloh menolongku, juga anda semua untuk tetap melaksanakan amal-amal sholih itu sampai tiba kematian.
Segala puji bagi Allah Subhaanahu wa Ta’aala Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada nabi kita, Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, juga kepada segenap kerabat dan sahabat serta pengikutnya yang setia hingga hari kiamat.

Senin, 11 April 2011

PENDIDIKAN GENERASI MUDA


Pendidikan Dalam Sekilas Makna
            Istilah pendidikan, secara etimologis --menurut bahasa-- merupakan padanan kata dalam bahasa Indonesia dari istilah education dalam bahasa inggris atau educar, dalam bahasa latin yang artinya “mengantar keluar”, dalam istilah bahasa Arab terdapat dua versi dominan yakni sebagian mengatakan Tarbiyah dan yang lainnya lebih suka menyebut ta’dib agar didalamnya mengandung arti adab,keadilan dan ketidak bingungan.
Dalam karyanya yang berjudul Philosophy of education, Ruper C Lodge, mengungkapkan bahwa pendidikan itu adalah kehidupan, dan hidup adalah pendidikan. Ia mendifinisikan”.. The word education is used, sometimes in a wider, sometimes is narrower sense. In the wider sense, all experience is said to be educative …… life is education and  education is life”.
 Apapun sebutannya dan istilahnya, esensi pendidikan adalah suatu epistimologi (istilah) mendasar yang berimplikasi luas dan lebar, yang merupakan proses aktif yang melibatkan seluruh ekponen inhern (perangkat bawaan) manusia berpadu dengan segenap dimensinya --multi dimensional-- yang  diatasnya menjadi tempat dibangunnya suatu  gerak (activity) baik jasmani atau rohani yang tidak lagi kosong nilai. Nilai baik dan buruk, benar dan salah atau pantas dan tidak pantas akan memancar dari aktifitas yang dilahirkan dari proses pendidikan terseabut. Manusia sebagai bagian dari alam, perbuatannya, aktifitasnya, keputusannya secara niscaya akan berimplikasi luas pada alam sekitarnya. Gerak manusia akan membawa dampak terhadap alamnya, komunitasnya dan bahkan pada dirinya sendiri.
Dalam pendidikan Islam, gerak (motoric) yang lahir dari akumulasi proses yang mendasar tersebut menurut Ahmad  Marimba, diharapkan mencerminkan bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani siterdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama, melalui proses (a) pembiasaan (b) pembentukan pengertian, sikap dan minat (c) Pembentukan kerohanian yang luhur.
Pendidikan dan Generasi Islami
Menyoal generasi muda tidak dapat dipisahkan dari persoalan potensi besar yang terpendam dibalik fisik mereka yang relatif difahami lebih kuat dan perkasa. Potensi tersebut tidak seperti yang dimiliki oleh mahluk lain, yang dapat dengan sendirinya terbentuk dan berkembang secara kudrati (natural behaviour) –sunnatullah. Mahluk lain akan menemukan  bentuk karakternya secara mandiri dan bersifat automatically begitu ia terlahir – meskipun beberapa kasus binatang tergolong Animal educable -- bahkan beberapa binatang lain memperoleh karakter dari jenis kebinatangannya bersamaan dengan kelahirannya.  Sedangkan manusia, tidak dapat menemukan kemanusiaannya secara niscaya, man’s natural powers bukan hanya butuh proses yang panjang melainkan juga sekaligus harus benar dan terarahkan. Ini menunjukkan bahwa manusia untuk menjadi manusia perlu jedah tertentu untuk dididik -- homo educandum = mahluk yang harus dididik --  secara continum (berkesinambungan) terarah dan secara materi harus terkandung suatu nilai kebenaran. Meskipun kenyataannya pada setiap proses yang sama tersebut dengan individu yang berbeda tidak selalu berakhir dengan hasil yang sama. Hal ini menunjukkan kompleksitas dalam proses pembentukan kemanusiaan pada seorang manusia.
Menurut Dra. Zuhairini, dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam, Pendidikan dalam pengertian yang luas adalah meliputi semua perbuatan atau semua usaha dari generasi tua untuk mengalihkan (melimpahkan) pengetahuannya, pengalamannya, kecakapannya serta ketrampilannya kepada generasi muda, sebagai usaha untuk menyiapkan mereka agar dapat memenuhi fungsi hidupnya, baik jasmaniah maupun rohaniah. Dalam kontek ini, generasi muda sebagai manusia selalu berhasrat pada pendidikan, karena memang secara umum tanpa mempersoalkan hirarkinya bahwa kebutuhan dasar manusia adalah (a) Kebutuhan biologis, (b) Kebutuhan psikis, (c) kebutuhan social, (d) Kebutuhan agama (spiritual) dan (e) Kebutuhan paedagogis (intelektual).
Jadi tidak dapat ditawar lagi, bahwa pendidikan memiliki relevansi dan implikasi yang luar biasa dalam wacana pembentukan generasi muda. Oleh karena itu dunia pendidikan Islam harus concern terhadap persoalan generasi muda, sebab pendidikan merupakan proses yang representatif terhadap pembentukan generasi yang Islami, yaitu sebuah generasi yang cinta kepada Allah dan Allah mencintai mereka, lemah lembut terhadap orang yang mu’min, bersikap keras (tegas) terhadap orang-orang kafir, berjihat di jalan Allah, tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. (QS. Al maidah ayat 54).
Unsur Persoalan Makro
Pendidikan sebagai sebuah sistem, sangat tergantung pada harmonitas antara usaha (kegiatan), pendidik, terdidik, tujuan, dan alat atau sarana pendidikan. Lima unsur dalam proses pendidikan tersebut harus terbentuk dalam sebuah integritas yang sebangun. Sebagai sistem, tidak ada yang tidak penting atau paling penting, bagaimanapun  kecilnya ketidak seimbangan pada salah satu unsur tersebut, akan berakibat tidak tercapainya cita-cita sebuah proses. Lain dari pada itu, sebetulnya cukup banyak sub-ordinasi yang mempengaruhi proses pendidikan, namun kita akan coba berangkat dari persoalan-persoalan makro pendidikan.
Pertama, usaha atau kegiatan pendidikan harus bersifat bimbingan, pertolongan, pembinaan yang dilakukan secara sadar baik oleh pendidik dan atau terdidik. Dalam teori progressivisme kegiatan pendidikan harus bersifat fleksibel atau The liberal road to culture, tidak kaku, toleran, open-minded, corious (ada rasa ingin tahu yang besar dari terdidik).
Dr Jalaluddin dalam bukunya “filsafat pendidikan Islam, konsep dan perkembangan”, mengatakan bahwa secara normatif kegiatan pendidikan islam bertujuan menolong anak didik mengembangkan kemampuan individunya, membiasakan anak didik membentuk sikap diri, membantu anak didik bertindak efektif dan efesien, membimbing aktifitas anak didik
Kedua, Pendidik sebagai sumber informasi harus mampu menguasai metode sekaligus materi pengajaran. Pendidikan tinggi yang berkompeten dengan dunia pendidikan – fakultas keguruan misalnya -- senyatannya lebih banyak menghasilkan pelaku pendidikan yang menguasai metode mengajar dari pada materi yang diajarkan. Sebaliknya fak-fak yang non keguruan menguasai materi namun lemah dalam metode mengajar. Kedua kemampuan tersebuat (menguasai metode dan meteri) harus menjadi kemampuan yang akumulatif dari seorang pendidik.
Ketiga, Terdidik tidak hanya sebagai obyek dan terget yang pasif, tetapi harus menjadi subyek yang aktif, memiliki motivasi yang sama untuk mewujudkan sebuah proses pendidikan. Keberhasilan sistem harus menjadi tanggung jawab semua komponen pendidikan, tidak hanya guru yang bertugas mendisiplinkan murid, tetapi murid harus punya rasa butuh terhadap prilaku disiplin. Bukan hanya kepala sekolah yang bertanggung jawab terhadap keaktifan guru, tetapi guru harus punya pertalian terhadap apa yang terbaik bagi anak didik dan sekolah. 
Keempat, Pendidikan harus mempunyai dasar dan Tujuan  yan jelas. Menurut faham esensialisme, bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang jelas dan tahan lama sehingga memberi kestabilan dan arah yang jelas pula.Bahkan aliran Perennialisme (perennial=Abadi atau kekal) memandang sangat penting berpegang pada nilai-nilai norma-norma yang bersifat kekal abadi,  dalam oxford advanced learner’s dictionary of current English tentang norma yang abadi ditulis”Countinuing throughout the whole year” atau “lasting for a very long time “. Keabadian inilah yang menjadi bidikan dari tujuan pendidikan. Kita perlu melakukanrestore to the original form atau merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudyaan yang samasekali baru. Menurut Muhammad Iqbal, Manusia harus memiliki prinsip-prinsip abadi untuk mengatur seluruh kehidupannya, karena prinsip yang abadi memberi kita pijakan yang kokoh di dunia yang senantiasa berubah. Orientasi pendidikan kita bukan sekedar selembar ijazah, NEM yang tinggi, lapangan pekerjaan, dan peningkatan statsus atau aktualisasi diri. Tetapi lebih jauh dari itu, yakni menggapai nilai-nilai kemanusiaan dan pembentukan kepribadian berdasarkan nilai keabadian yaitu Qur-an dan Hadits.
Kelima, Alat/sarana yang cukup untuk melaksanakan pembelajaran. Alat yang memadai tidak diukur dari mahal dan canggihnya, tetapi lebih pada fungsionalisme alat dan sarana sesuai dengan kebutuhan sehingga lebih efesien dalam menunjang proses pendidikan. Namun demikian, dunia pendidikan tidak boleh menutup mata terhadap perkembangan sarana pendidikan yang serba mutakhir, paling tidak harus mampu memanfaatkan segala sarana yang ada secara optimal. Bahkan karena hasil tehnologi itu bersifat value free (bebas nilai) hampir seluruh perkembangan tehnologi dapat dijadikan sarana pendidikan baik yang bernuasa merusak maupun membangun.